The Barisan Pemuda Adat Nusantara menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional ke-5 (RAKERNAS V) di Wilayah Adat Ampang Delapan, yang merupakan wilayah Masyarakat Adat Talang Mamak di Indragiri Hulu, Riau. Pertemuan ini mengusung tema “Pemuda Adat Kuat, Wilayah Adat Berdaulat”, yang menegaskan pentingnya persatuan antara kekuatan pemuda adat dan kedaulatan wilayah adat mereka.
Menurut Hero Aprila, Ketua BPAN, tema tersebut mencerminkan realitas yang dihadapi oleh Masyarakat Adat di seluruh nusantara.
“BPAN hadir untuk menghubungkan pengetahuan leluhur dengan semangat anak muda. BPAN dibangun dari aspirasi kampung-kampung kami — apa yang menjadi harapan masyarakat di tingkat lokal juga harus diperjuangkan dan diperkuat di tingkat nasional. Suara dari kampung harus didengar, baik di tingkat nasional maupun internasional. Jutaan hektare wilayah adat telah dirampas — termasuk di Talang Mamak, di mana sebagian besar lahan telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit,” jelasnya.
Hero juga menekankan peran penting hutan bagi Masyarakat Talang Mamak, dengan menegaskan bahwa hutan menyimpan kekayaan yang tak tergantikan — jauh melampaui nilai materi semata.
“Apa yang terjadi di Talang Mamak juga terjadi di banyak wilayah adat lainnya di seluruh nusantara. Sebagai generasi muda, kita tidak boleh bersikap apatis. Kita harus peduli pada kampung kita sendiri, belajar dari para tetua bagaimana menjaganya, menghormati leluhur, menjunjung adat dan budaya, serta bangga dengan jati diri kita sebagai Masyarakat Adat dan Pemuda Adat. Inilah semangat yang akan terus kami gaungkan melalui RAKERNAS V,” tambahnya.



Pemberdayaan Pemuda Adat dan Penguatan Kedaulatan Organisasi
RAKERNAS V menjadi tonggak penting dalam memperkuat partisipasi Pemuda Adat dalam pengambilan keputusan organisasi dan kebijakan di tingkat nasional. Melalui pengesahan anggaran dasar yang baru serta sejumlah resolusi strategis, BPAN menegaskan perannya sebagai organisasi Pemuda Adat yang sah dan sejalan dengan prinsip-prinsip AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).
Pertemuan ini mendorong proses demokrasi yang berakar pada nilai-nilai adat, sehingga setiap keputusan benar-benar mencerminkan aspirasi kolektif Pemuda Adat dari seluruh nusantara. Salah satu hasil pentingnya adalah Resolusi Talang Mamak, yang memuat tuntutan konkret untuk perlindungan wilayah adat dan pengakuan terhadap sistem pemerintahan adat — sekaligus menjadi arah perjuangan advokasi ke depan bersama lembaga pemerintah dan jejaring mitra.
Dengan menyelenggarakan kegiatan ini di wilayah adat Talang Mamak, BPAN menunjukkan solidaritas yang kuat terhadap salah satu komunitas Masyarakat Adat yang paling terancam di Indonesia, yang wilayahnya kini dikepung oleh perkebunan kelapa sawit.
“Kehadiran BPAN di Talang Mamak merupakan pernyataan solidaritas yang kuat dari Pemuda Adat di seluruh nusantara. Hal ini mencerminkan dukungan bersama kami agar masyarakat Talang Mamak memperoleh pengakuan dan perlindungan atas hak-haknya. Gerakan ini juga menjadi contoh bagi Pemuda Adat — baik di tingkat nasional maupun global — untuk terus menjunjung prinsip perjuangan bersama dan tanggung jawab kolektif,” ujar perwakilan BPAN.


Peningkatan Kapasitas dan Kepemimpinan Pemuda Adat
RAKERNAS V juga menjadi wadah untuk memperluas kapasitas Pemuda Adat dalam terlibat dalam pembahasan tata kelola dan pengelolaan sumber daya. Para peserta saling berbagi pengalaman dalam mempertahankan wilayah adat, mengorganisir kelompok pemuda, serta membangun dialog lintas generasi dengan para tetua. Pertukaran ini menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus memperkuat kepemimpinan pemuda di tingkat lokal, regional, hingga nasional.
Kegiatan ini menunjukkan praktik nyata penentuan nasib sendiri oleh Pemuda Adat. BPAN secara mandiri merencanakan, mengelola, dan melaksanakan seluruh rangkaian kegiatan — mulai dari menggalang dukungan di tingkat lokal hingga memastikan partisipasi yang inklusif dari tujuh wilayah di Indonesia. Pengesahan Program Kerja 2025–2026 serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) menjadi wujud nyata kedaulatan organisasi, yang memungkinkan BPAN menentukan arah geraknya sendiri sekaligus menegaskan perannya dalam gerakan Masyarakat Adat yang lebih luas.
Melalui pertemuan ini, BPAN memperkuat kerangka kelembagaan dan sistem kepemimpinannya. AD/ART yang disahkan memperjelas peran organisasi, mekanisme akuntabilitas, serta struktur keanggotaan. Sesi pengembangan kepemimpinan dan perencanaan strategis turut meningkatkan kapasitas para pemimpin di tingkat daerah dan lokal dalam mengelola pengambilan keputusan bersama serta memastikan keberlanjutan BPAN sebagai gerakan nasional Pemuda Adat.
Peserta dan Perwakilan
Rapat Kerja Nasional ke-5 ini dihadiri oleh:
- 33 Ketua Wilayah Pengorganisasian yang mewakili 7 wilayah, yaitu: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali–Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
- Anggota Dewan Pengurus Nasional BPAN (10 orang anggota Dewan Pemuda Adat - DePAN BPAN)
- Ketua Nasional BPAN serta 5 orang staf Sekretariat Nasional(SekNas BPAN)
- 30 orang anggota Pengurus BPAN Kabupaten Indragiri Hulu
- 85 orang perwakilan dari Masyarakat Adat Talang Mamak
- 11 orang peninjau (observer) dari kepengurusan BPAN di Bengkulu, Tebo, Bungo Tanjung, dan Sihaporas
Langkah Bersama Menuju Masa Depan
RAKERNAS V BPAN kembali menegaskan kekuatan, ketangguhan, dan kepemimpinan Pemuda Adat di seluruh Indonesia. Kegiatan ini bukan sekadar rapat kerja, tetapi juga menjadi pernyataan bersama bahwa Pemuda Adat akan terus menjaga wilayahnya, melestarikan budayanya, serta meneruskan kearifan leluhur menuju masa depan yang berlandaskan penentuan nasib sendiri dan kedaulatan.
Untuk cerita-cerita lainnya tentang BPAN, kunjungi https://pemudaadat.org/rakernas-ke-v-bpan-resmi-dibuka/


