{"id":1997,"date":"2026-04-30T12:26:41","date_gmt":"2026-04-30T12:26:41","guid":{"rendered":"https:\/\/ipasfund.org\/?p=1997"},"modified":"2026-04-30T12:26:43","modified_gmt":"2026-04-30T12:26:43","slug":"reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/","title":{"rendered":"Menghidupkan Kembali Batik Hmong di Baan Suan Sai"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Di desa Baan Suan Sai di Provinsi Nan, batik Hmong dulunya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Para wanita mempelajarinya sejak usia muda, duduk di samping ibu dan nenek mereka, menggambar pola dengan lilin dan mewarnai kain dengan nila. Itu adalah keterampilan sekaligus cara untuk mengekspresikan jati diri mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Poo Hwa Seur, yang kini berusia hampir 80 tahun, mengingat masa-masa itu dengan jelas. Ia mulai membuat batik sejak usia 14 tahun. Saat itu, batik menjadi sumber penghasilannya yang utama. Ia bekerja berjam-jam, seringkali siang dan malam, untuk menafkahi pendidikan anak-anaknya. Meskipun penghasilannya kecil, pekerjaannya stabil dan bermakna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hari ini, dia tidak lagi membuat batik. Seperti banyak orang lain di desa itu, dia berhenti bertahun-tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"577\" src=\"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT6-1024x577.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1998\" srcset=\"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT6-1024x577.jpg 1024w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT6-300x169.jpg 300w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT6-768x432.jpg 768w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT6-1536x865.jpg 1536w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT6-18x10.jpg 18w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT6.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Para tetua melangkah kembali pada keahlian yang tak tersentuh selama bertahun-tahun, membangkitkan kisah yang tersimpan di tangan mereka. Foto oleh: HNT<br><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Mengapa Batik Menghilang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seiring waktu, segala sesuatunya mulai berubah. Di pasaran, batik cap menjadi lebih umum. Pembuatannya lebih cepat dan dijual lebih murah. Dibandingkan dengan ini, batik tulis membutuhkan waktu dan usaha yang jauh lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak orang di komunitas tersebut mendapati bahwa mereka tidak lagi dapat mengandalkannya untuk penghasilan. Sebagian beralih ke bercocok tanam, sementara yang lain mencari jenis pekerjaan yang berbeda yang menawarkan stabilitas lebih. Pada saat yang sama, kaum muda mulai meninggalkan desa untuk bersekolah atau bekerja di kota. Semakin sedikit dari mereka yang tertarik belajar batik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perlahan-lahan praktik itu menjadi kurang umum, dan pengetahuan tidak lagi diturunkan seperti sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Memulai Kembali<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 2025, sebuah inisiatif oleh Hmong Nhia Tshua menciptakan kesempatan untuk kembali menyatukan orang-orang. Anggota komunitas berkumpul untuk mempelajari kembali batik Hmong. Beberapa orang mencobanya untuk pertama kali, sementara yang lain kembali mengasah keterampilan yang sudah bertahun-tahun tidak mereka praktikkan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka memulai dengan dasar-dasarnya\u2014menyiapkan perkakas, menggambar pola sederhana, dan belajar cara menggunakan pena lilin. Awalnya, itu tidak mudah. Lilin tidak selalu mengalir dengan mulus, dan garis-garisnya seringkali tidak rata. Butuh waktu untuk terbiasa kembali dengan prosesnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para pelatihnya adalah orang-orang tua yang memiliki pengetahuan mendalam, tetapi menjelaskan setiap langkah dengan jelas terkadang menjadi tantangan. Sekalipun begitu, orang-orang terus berlatih, saling membantu, dan perlahan-lahan meningkat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe title=\"Batik Hmong: Warisan Kearifan Tradisional yang Memudar\" width=\"800\" height=\"450\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/b_OHpkk6yi4?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Belajar Beradaptasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat inisiatif berlanjut, fokusnya meluas ke pewarnaan alami dan pengembangan produk. Namun, ada tantangan praktis. Banyak anggota komunitas tidak memiliki keterampilan menjahit, dan tidak ada mesin jahit yang tersedia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alih-alih membuat kain dari awal, mereka bekerja dengan barang jadi seperti kemeja, rok, dan tas. Mereka menggambar pola dengan lilin lalu mewarnai barang-barang tersebut menggunakan nila.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses pewarnaan membutuhkan kesabaran. Kain perlu dicelup beberapa kali untuk memperoleh warna yang diinginkan. Setelah setiap langkah, kain harus dikeringkan dan ditangani dengan hati-hati. Bagi sebagian orang, ini adalah pengalaman baru; bagi yang lain, ini adalah pengingat betapa detailnya proses tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada juga keterbatasan. Tanaman nila tidak lagi ditanam di desa, sehingga bahan harus dibawa dari tempat lain. Beberapa teknik tradisional telah dilupakan seiring waktu, membuat proses belajar menjadi lebih sulit.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"577\" src=\"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT4-1024x577.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2000\" srcset=\"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT4-1024x577.jpg 1024w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT4-300x169.jpg 300w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT4-768x432.jpg 768w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT4-1536x865.jpg 1536w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT4-18x10.jpg 18w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT4.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Proses batik Hmong terungkap secara kolaboratif, saat para tetua dan pembelajar bekerja berdampingan untuk melestarikan pengetahuan budaya. Foto oleh: HNT<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Apa yang Dipelajari Komunitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di akhir inisiatif tersebut, anggota masyarakat berkumpul untuk merefleksikan pengalaman mereka. Mereka berbicara tentang pentingnya batik\u2014tidak hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka sepakat bahwa generasi muda harus diberi kesempatan untuk belajar, baik menggambar tangan tradisional maupun teknik modern. Mereka juga membahas perlunya menciptakan desain dan produk baru yang dapat menarik pasar saat ini sambil tetap mencerminkan budaya Hmong.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat yang sama, mereka menyadari bahwa produksi harus seimbang. Membuat terlalu banyak produk dapat menurunkan nilainya, sehingga penting untuk memproduksi dengan hati-hati dan bijaksana.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"577\" src=\"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT2-1024x577.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1999\" srcset=\"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT2-1024x577.jpg 1024w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT2-300x169.jpg 300w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT2-768x432.jpg 768w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT2-1536x865.jpg 1536w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT2-18x10.jpg 18w, https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT2.jpg 2048w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption class=\"wp-element-caption\">Kain batik Hmong celup nila digantung hingga kering, menampilkan pola rumit yang dibuat melalui teknik penolakan lilin tradisional. Foto oleh: HNT<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Melihat ke Depan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inisiatif ini telah membantu mengembalikan pengetahuan yang hampir punah. Anggota masyarakat telah memperoleh keterampilan dan ide-ide baru, dan beberapa mulai melihat kemungkinan baru untuk memanfaatkan batik dalam kehidupan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masih ada tantangan, terutama dalam menjaga minat kaum muda dan menemukan pasar yang stabil. Namun, komunitas tersebut telah mengambil langkah awal yang penting.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Batik Hmong di Baan Suan Sai mungkin tidak akan kembali persis seperti semula, tetapi perlahan-lahan bangkit kembali dengan cara baru\u2014melalui pembelajaran bersama, adaptasi, dan upaya berkelanjutan untuk menjaga tradisi tetap hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Inisiatif ini dipimpin oleh Hmong Nhia Thsua (HNT) \u2013 sekelompok perempuan Hmong yang bersatu untuk menghidupkan kembali pengetahuan tradisional tentang obat herbal, makanan, dan kerajinan tangan. Kelompok ini berupaya mempertahankan kearifan dan kesejahteraan masyarakat melalui pembelajaran dan kolaborasi bersama, sekaligus mengembangkan produk berbasis masyarakat yang berkelanjutan dan mewariskan warisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.<br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terhubung dengan HNT: https:\/\/web.facebook.com\/hmongnhiatshua <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>In Baan Suan Sai village in Nan Province, Hmong batik used to be part of daily life. Women learned it when they were young, sitting beside their mothers and grandmothers, drawing patterns with wax and dyeing fabric with indigo. It was both a skill and a way to express their identity. Poo Hwa Seur, now [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":2002,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[28,32,41,17,20,52],"class_list":["post-1997","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news","tag-indigenous-communities","tag-indigenous-initiatives","tag-indigenous-peoples-asia","tag-indigenous-women","tag-indigenous-women-in-asia","tag-thailand"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai | Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ipasfund.org\/id\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai | Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"In Baan Suan Sai village in Nan Province, Hmong batik used to be part of daily life. Women learned it when they were young, sitting beside their mothers and grandmothers, drawing patterns with wax and dyeing fabric with indigo. It was both a skill and a way to express their identity. Poo Hwa Seur, now [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ipasfund.org\/id\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-30T12:26:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-30T12:26:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2048\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1153\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"IPAS Comms\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"IPAS Comms\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"IPAS Comms\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/079cac222c48d0464c4067aa88e516f6\"},\"headline\":\"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai\",\"datePublished\":\"2026-04-30T12:26:41+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-30T12:26:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/\"},\"wordCount\":848,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/HNT.jpg\",\"keywords\":[\"Indigenous Communities\",\"Indigenous Initiatives\",\"Indigenous Peoples Asia\",\"Indigenous Women\",\"Indigenous Women in Asia\",\"Thailand\"],\"articleSection\":[\"News\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/\",\"name\":\"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai | Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/HNT.jpg\",\"datePublished\":\"2026-04-30T12:26:41+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-30T12:26:43+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/HNT.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/04\\\/HNT.jpg\",\"width\":2048,\"height\":1153},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/\",\"name\":\"Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund\",\"description\":\"The first Indigenous-led fund\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#organization\"},\"alternateName\":\"IPAS\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#organization\",\"name\":\"Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund\",\"alternateName\":\"IPAS\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/cropped-IPAS-Fund-Transparant.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/09\\\/cropped-IPAS-Fund-Transparant.png\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"},\"sameAs\":[\"https:\\\/\\\/www.instagram.com\\\/ipasfund\\\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/079cac222c48d0464c4067aa88e516f6\",\"name\":\"IPAS Comms\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/308967d1a8fd90f146e20619c835434ce80552c2ef24f61bb2f19158633b86ef?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/308967d1a8fd90f146e20619c835434ce80552c2ef24f61bb2f19158633b86ef?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/308967d1a8fd90f146e20619c835434ce80552c2ef24f61bb2f19158633b86ef?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"IPAS Comms\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/ipasfund.org\\\/id\\\/author\\\/1p45_content\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai | Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai | Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund","og_description":"In Baan Suan Sai village in Nan Province, Hmong batik used to be part of daily life. Women learned it when they were young, sitting beside their mothers and grandmothers, drawing patterns with wax and dyeing fabric with indigo. It was both a skill and a way to express their identity. Poo Hwa Seur, now [&hellip;]","og_url":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/","og_site_name":"Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund","article_published_time":"2026-04-30T12:26:41+00:00","article_modified_time":"2026-04-30T12:26:43+00:00","og_image":[{"width":2048,"height":1153,"url":"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"IPAS Comms","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"IPAS Comms","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/"},"author":{"name":"IPAS Comms","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#\/schema\/person\/079cac222c48d0464c4067aa88e516f6"},"headline":"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai","datePublished":"2026-04-30T12:26:41+00:00","dateModified":"2026-04-30T12:26:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/"},"wordCount":848,"publisher":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT.jpg","keywords":["Indigenous Communities","Indigenous Initiatives","Indigenous Peoples Asia","Indigenous Women","Indigenous Women in Asia","Thailand"],"articleSection":["News"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/","url":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/","name":"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai | Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT.jpg","datePublished":"2026-04-30T12:26:41+00:00","dateModified":"2026-04-30T12:26:43+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/#primaryimage","url":"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT.jpg","contentUrl":"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/HNT.jpg","width":2048,"height":1153},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/reviving-hmong-batik-in-baan-suan-sai\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ipasfund.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Reviving Hmong Batik in Baan Suan Sai"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#website","url":"https:\/\/ipasfund.org\/","name":"Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund","description":"Dana pertama yang dipimpin oleh masyarakat adat","publisher":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#organization"},"alternateName":"IPAS","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ipasfund.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#organization","name":"Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund","alternateName":"IPAS","url":"https:\/\/ipasfund.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/cropped-IPAS-Fund-Transparant.png","contentUrl":"https:\/\/ipasfund.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/cropped-IPAS-Fund-Transparant.png","width":512,"height":512,"caption":"Indigenous Peoples of Asia Solidarity Fund"},"image":{"@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/ipasfund\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ipasfund.org\/#\/schema\/person\/079cac222c48d0464c4067aa88e516f6","name":"IPAS Komunika","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/308967d1a8fd90f146e20619c835434ce80552c2ef24f61bb2f19158633b86ef?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/308967d1a8fd90f146e20619c835434ce80552c2ef24f61bb2f19158633b86ef?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/308967d1a8fd90f146e20619c835434ce80552c2ef24f61bb2f19158633b86ef?s=96&d=mm&r=g","caption":"IPAS Comms"},"url":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/author\/1p45_content\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1997","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1997"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1997\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2003,"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1997\/revisions\/2003"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2002"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1997"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1997"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ipasfund.org\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1997"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}